Minggu, 23 Juni 2013

First Fanfict #39

Dei : "Menurut Reza bisa aja kalo penculiknya itu ngegendong Rena terus dibawa kabur keluar dari hutan ini"
Riris : "Za, itu bukan alasan lo biar kita keluar dari hutan ini kan? Hahaha"
Reza : "Gue emang takut! Tapi yang gue omongin tadi bisa aja kan? Secara si Enno tuh kecil ya gampang dibawa bawa laah"
Riris : "Terus sekarang kita mau gimana?"
Dei : "Bentar ya guys, gue nerima telpon dulu" *mengangkat telepon* "Halo? Kenapa Vin? Lo udah nemu rumahnya? Dimana? Iya iya gue kesana sekarang" *menutup telepon*
Riris : "Si Kevin udah nemu?"
Dei : "Iya dia nemu rumah tua gitu tapi agak berisik di dalemnya. Katanya gak jauh dari mobil Jeep tadi. Bener kata lo za, rumahnya diluar hutan ini"
Reza : "Bener kan apa kata gue" :p "Ayo cepet kita selamatin si Semut!" *berlari*
Riris : "Lo pengen cepet cepet keluar dari hutan kan? Bukan pengen nyelametin Enno?" *berlari* xp
Ternyata Kevin dan Dimaz sudah siap di luar pintu rumah tersebut bersama Ilham Dicky Rafael Bisma Morgan dan Rangga. Sedatangnya Reza Riris dan Dei mereka langsung menyerbu masuk kecuali Riris. Ia ditugaskan untuk berjaga diluar dan sekaligus mencari Enno lewat jendela.
Tanpa diduga duga di dalam rumah itu terdapat 20 preman berbadan besar. Untungnya 10 siswa tersebut sudah mempersiapkan diri sehingga dengan lihai dan terampil mereka menghabiskan preman preman tersebut dalam waktu 5 'menit.
Riris pun sudah menemukan Enno melalui jendela besar yang tertutupi oleh gorden gorden tua yang sudah rombeng. Karena tidak ada yang menjaga ia segera memecahkan kaca dan menerobos masuk. Sayangnya Enno masih tertidur. -__________________-
Riris : "No, bangun woi!" *menggoyang goyangkan Enno* "No!! Woi!!! Banguuuuuuuun!! Enno!!!" *menampar nampar Enno*
Reza, Dicky, Dimaz dan Rangga pun bergegas masuk ruangan tempat Riris dan Enno berada melewati jendela karena pintu yang dikunci. Sedangkan 6 siswa lainnya masih tetap berada disitu khawatir para preman sadar kembali atau masih ada yang tersisa. Di ruangan...
Riris : "Si Enno masih tidur, susah dibanguninnya"
Dicky : "Yaudah gendong aja masukin ke mobil"
Riris : "Gencong dick! Gue gak bisa, jauh dari sini ke mobil"
Dicky : "Gue gak bisa gendong orang, tangan gue baru aja salah nonjok. Harusnya muka preman malah tembok"
Rangga : "Jangan curhat disini ky"
Dimaz : "Yaudah gue aja yang gendong, masuk mobil mana nih?"
Rangga : "Mobil yang kosong mobil siapa?"
Riris : "Mobil gue sama Reza"
Reza : "Yaudah sini gue yang bawa" *menggendong Enno* "Ayo keluar!"
Tanpa berbasa basi 11 siswa Xperfect tersebut pun bergegas memasuki mobilnya masing masing menuju hotel guru. Dalam perjalanan...
Riris : "Masih belom bangun juga za?"
Reza : "Belum"
Riris : "Bisa jadi dia tidur asli, bukan efek dari mereka"
Reza : "Emang se-kebo itu?"
Riris : "Tergantung sih, kadang gampang bangun kadang ya begini"
Reza : "Dari kecil?"
Riris : "Kalo gak salah sih dari SD, pas SMP malah hampir setiap pelajaran sebelum makan siang pasti tidur 10 menit 5 menit"
Reza : "Emangnya dia enggak pernah ditegur atau dihukum guru gitu?"
Riris : "Ditegur sih lumayan sering, cuma enggak sampe dihukum juga"
Reza : "Oooh gitu.. Oh iya ini jadinya kemana? Ke hotel guru aja? Gak usah ke villa?"
Riris : "Kita bawa ke Miss Dennisa dulu aja"
Reza : "Yaudah"
15 menit perjalanan pun usai setibanya mereka di Hotel Pesona tempat guru guru menginap. Rencananya Enno akan bermalam di hotel untuk malam ini.
Reza : *membawa Enno ke hadapan Miss Dennisa* "Ini miss Rena nya" *mendudukkan Enno*
Ms Dennisa : "Belum sadar juga? Ada luka?"
Riris : "Sepertinya sudah miss, cuma dia tertidur. Dan sepertinya tidak ada luka apapun"
Ms Dennisa : "Kalau begitu Rena tidur di villa saja. Tadinya kalau Rena terluka akan tidur disini bersama miss"
Riris : "Kalau begitu sekarang juga kami antar ke rumahnya miss. Permisi.." #pergi
Reza : *menggendong Enno dan pergi*
Malam itu Enno langsung ditidurkan di tempat tidurnya oleh Reza dan Riris.
Keesokan paginya...
Enno : *bangun* "Aku dimana? Midda? Miiiid.." *membangunkan Midda*
Midda : *bangun* "Kamu udah bangun no? Maaf ya gara gara kita tinggalin kamu jadi diculik gini.."
Enno : "Emang aku diculik? Bentar bentar belanjaan aku mana? Kemaren aku belanja banyaak"
Midda : "Kamu diculik no, terus kayaknya sebagian belanjaan kamu masih ada di tempat kamu diculik. Sebagian lagi ada di ruang tamu. Emangnya kamu enggak nyadar kalo kamu diculik?"
Enno : "Enggak, yang aku inget pas aku belanja aku cape. Terus aku duduk terus aku... tidur. Bangun bangun disini"
Midda : "Dasar kebo! Kita semua tuh panik gimana caranya nyelametin kamu dari penjahat, kamu malah gak sadar" -___________-
Enno : "Ih jangan salahin. Salah penjahatnya ngasi aku obat tidur"
Midda : "Udah udah, aku mau mandi dulu. Nanti kamu ikut aku ke hotelnya Miss Dennisa" *beranjak dari tempat tidur*
Saat Enno memeriksa barang barangnya ia baru teringat bahwa ia belum melihat kalung pemberian almarhum kakeknya. Ia pun kembali memeriksa setiap detail barang barangnya. Ia tidak ingin kehilangan kalung tersebut.
Kalung itu sangat berharga untuknya karena itu adalah pemberian terakhir dari almarhum kakeknya. Kalung itu memang sangat spesial karena dipesankan khusus oleh sang kakek untuknya dari USA. Di kalung itu terdapat liontin love kecil bertuliskan nama kakeknya.
Seselesainya Midda dan Enno bersiap mereka berdua langsung menggunakan motor sewaan Midda untuk pergi ke hotel Miss Dennisa. Disana Enno menceritakan kalungnya yang hilang.
En Md : "Permisi miss..."
Ms Dennisa : "Silakan duduk"
En Md : *duduk*
Ms Dennisa : "Jadi, apa yang terjadi?"
Enno : "Mmm tidak ada miss, saya hanya kehilangan kalung pemberian almarhum kakek saya"
Ms Dennisa :"Selain itu tidak ada lagi?"
Enno : "Belanjaan saya banyak yang tertinggal miss"
Ms Dennisa : "Kalau hanya itu berarti tidak ada yang perlu dipermasalahkan kembali kan?"
Enno : "Tapinya miss itu barang berharga saya"
Ms Dennisa : "Kamu bisa membeli lagi souvenir souvenir kamu kan?"
Enno : "Bukan belanjaan saya miss, kalung saya yang berharga"
Ms Dennisa : "Oooh kalau begitu coba kamu tanyakan pada yang lain. Kebetulan miss tidak ikut menuju tempat penculiknya"
Enno : "Lalu siapa saja yang ikut miss?"
Ms Dennisa : "Ada 11 orang: Riris, Bisma, Reza, Dicky, Ilham, Morgan, Rafael, Rangga mm siapa lagi ya?"
Midda : "Kevin, Dei sama Dimaz bu"
Ms Dennisa : "Oh iya iya Kevin Dei sama Dimaz"
Enno : "Kalau begitu saya permisi dulu ya miss"
Ms Dennisa : "Ya ya silakan"
En Md : *beranjak dari tempat duduk dan pergi*
Enno dan Midda pun kembali ke villa dan mengunjungi setiap kamar.
Enno : "Bis, gan, tadi malem pas kalian ada di tempat penculik itu liat kalung gue ga?"
Bisma : "Mana gue tahu, lo pikir gue pengamat apa" -,-
Midda : "Please, kalungnya perak ada liontin love kecil"
Morgan : "Kalung yang sering lo pake itu no? Gue sih enggak liat"
Enno : "Mmm yaudah makasi"  *menuju lantai 2*
Bsm Mrg : *menuju lantai 5*
Di ruang tengah lantai 2..
Enno : "Call liat kevin atau ilham gak?"
Callysta : "Kevin keatas, Ilham juga. Kenapa?"
Enno : "Gak apa apa yaudah gue keatas dulu ya"
Callysta : "Ooh yaudah"
Di ruang tengah lantai tiga kosong, tidak ada orang. Seluruh penghuninya sedang berada di lantai 5. Di  lantai 4 sudah berada Bila, Litha, Kevin, Dei dan Dimaz. Mereka berlima rupanya sedang asyik bermain billiard.
Midda : "No, aku disini aja yak"
Enno : "Heem.. Eh vin dei dim, liat kalung gue gak?"
Dimaz : "Kalung kayak gimana?"
Enno : "Perak ada liontin love kecil"
Dei : "Sorry gue gak liat"
Kvn Dmz : "Gue juga"
Enno : "Kalo gitu makasi ya" *pergi menuju lantai 5*
Di balkon lantai 5 berkumpulah SM*SH Dina Thella dan Lala.
Enno : *mengetuk pintu* "Tok tok toook!!! Woi buka!!"
Bisma : "Ganggu banget, siapa si?" *berjalan membukakan pintu* "Lo lagi? Ngapain lo kesini?"
Enno : *keluar menuju balkon* "Bagus deh kalo lo semua ada disini, gue cuma mau nanya aja"
Rafael : "Nanya apa? Cepet deh, kita sibuk tau!"
Enno : "Yee woles kali mas."
Thella : "Jadi lo mau nanya apa?"
Enno : "Gue mau nanya, lo semua liat kalung gue gak pas ke rumah tua tadi malem?"
Rf Rg Dc Il : "Enggak"
Morgan : "Gue udah bilang engga"
Bisma : "Lo udah nanya ini tadi ke gue dan morgan, masih belum puas juga? Lagian kayaknya penting banget tuh kalung. Tinggal beli lagi kali"
Enno : "Itu kalung peninggalan dari almarhum kakek gue!"
Dicky : "Coba aja lo tanya si Reza. Tadi malem kan elo di gendong sama si Reza. Eh.."
Enno Thella : :O
Reza : *memasuki balkon* *membawa senampan minuman* "Apaan nih, kok ada gue guenya?"
Dicky : "Sorry za, tadi gue keceplosan soal tadi malem loo.." *terpotong*
Reza : "Soal si Enno ikut mobil gue? Lagian kenapa juga mobil gue yang kosong. Kalo salah satu dari elo ikut mobil gue kan gue gak perlu semobil sama si semut itu"
Enno : hah? reza ngegendong gue? mampus gue bisa di ancurin sama si thella *menghadap belakang*
Thella : alesan lo bagus banget za.. liatin abis semua pergi lo bakal berurusan sama gue!

to be continued, yang masih pengen tau kelanjutannya bisa stay di blog ini kok :) thanks udah bacaaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar